Kami Rindu, Bang Prof., Guru yang Memanusiakan Manusia

Lifestyle, Opini2 Dilihat

JAMBI, KOPASJAMBI.COM – Ada kerinduan yang tidak lahir semata-mata karena kehilangan, tetapi karena hati pernah disentuh oleh ketulusan yang begitu dalam. Sudah lebih dari satu tahun kami ditinggalkan oleh almarhum Prof. Dr. As’ad Isma. Namun waktu ternyata tidak membuat rasa kehilangan itu memudar.

Justru setiap hari kami semakin rindu kepada bang. Rindu pada nasihat-nasihatnya yang menenangkan, pada kepeduliannya yang tulus, pada caranya merangkul siapa saja tanpa sekat, dan pada keteladanan yang beliau hadirkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada jejak kebaikan yang begitu kuat tertinggal dalam ingatan kami, sehingga kepergian beliau terasa bukan semakin jauh, melainkan semakin dekat di hati.

Kerinduan kami kepada almarhum Prof. Dr. As’ad Isma bukan hanya karena beliau adalah guru, senior, dan abang bagi kami, melainkan karena beliau telah memberi teladan tentang bagaimana ilmu seharusnya menjelma menjadi pengabdian. Beliau adalah sosok yang berbuat tanpa banyak menghitung untuk diri sendiri, membantu tanpa memilih siapa yang harus ditolong, dan merangkul tanpa terlebih dahulu menimbang apakah seseorang itu kawan atau pernah menjadi lawan.

Dalam kehidupan sosial, sikap seperti itu bukan sekadar kebaikan personal, melainkan bentuk empati yang matang: kemampuan memahami sesama, menghormati martabat manusia, lalu menghadirkannya dalam tindakan nyata. Dan barangkali di situlah makna terdalam dari pesan yang sering beliau sampaikan, “memanusiakan manusia.” Sebuah kalimat yang sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung keluasan ilmu, keluhuran akhlak, dan kedalaman peradaban.

Majelis As’adiyah yang beliau tinggalkan hari ini bukan hanya sebuah nama, bukan pula sekadar peninggalan organisatoris. Ia adalah warisan hidup, bukti nyata bahwa kebaikan yang dibangun dengan keikhlasan akan terus bernafas melampaui usia pemiliknya. Ia menjadi ruang tempat nilai, ilmu, persaudaraan, dan kepedulian tetap tumbuh dari waktu ke waktu.

Di tengah zaman ketika tidak sedikit orang lebih sibuk merawat kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri, keteladanan almarhum terasa semakin penting untuk direnungkan. Sebab kecerdasan tanpa kerendahan hati mudah berubah menjadi kesombongan, jabatan tanpa empati mudah menjauh dari kemanusiaan, dan perjuangan yang hanya berpusat pada diri sendiri pada akhirnya kehilangan makna sosialnya. Ilmu sejati bukan hanya membuat seseorang tinggi dalam pengetahuan, tetapi juga luas dalam kepedulian.

Semoga Allah SWT menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya, melapangkan kuburnya, menerima seluruh amal kebaikannya, serta menguatkan hati keluarga dan kita semua yang ditinggalkan. Semoga pula kami mampu melanjutkan nilai-nilai luhur yang telah beliau ajarkan, agar kebaikan beliau tetap hidup dalam tindakan, pengabdian, dan cara kita memanusiakan sesama.

Oleh : Ramadhany Agus, S.Sy., M.H.

Komentar