KOPASJAMBI.COM – Proses pendidikan tidak pernah ringan. Ia menuntut konsistensi, pengorbanan, dan keberanian untuk bertahan dalam ketidakpastian. Beratnya proses sering kali bukan disebabkan oleh keterbatasan kemampuan individu, melainkan oleh realitas sosial yang menyertainya terutama ketika seseorang berada pada fase krusial pengembangan diri, seperti menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral.
Dalam ekosistem akademik, relasi antar generasi semestinya menjadi ruang pembelajaran etis dan intelektual. Namun, realitas di lapangan menunjukkan paradoks yang mengkhawatirkan. Ada pihak yang sungguh tidak mengetahui, ada yang sebenarnya mengetahui tetapi memilih berpura-pura tidak tahu, dan ada pula yang telah diberi penjelasan secara terang, tetapi memilih diam, menghindar, atau membiarkan komunikasi terputus tanpa tanggung jawab akademik yang jelas. Fenomena ini bukan sekadar persoalan personal, melainkan mencerminkan krisis etika dalam budaya pendidikan.
Padahal, pendidikan sejatinya adalah jendela dunia bukan hanya untuk memperluas pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk kepekaan sosial, integritas moral, dan tanggung jawab kolektif. Hampir semua individu yang hari ini disebut berhasil pernah melewati fase serupa: fase ketidakpastian, keterbatasan, bahkan ketergantungan pada uluran tangan orang lain. Ironisnya, ketika posisi dan status telah mapan, ingatan atas proses tersebut kerap memudar, seolah keberhasilan lahir secara instan tanpa jejak perjuangan.
Di sinilah makna senioritas seharusnya diuji. Senior bukan semata mereka yang lebih dahulu tiba, melainkan mereka yang memiliki kesadaran historis atas perjalanan intelektualnya sendiri. Senior yang sejati akan melihat wajah para pencari ilmu hari ini sebagai refleksi dirinya di masa lalu. Ia memahami bahwa membantu mereka yang sedang berproses bukanlah bentuk kemurahan hati semata, melainkan kewajiban moral dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pendidikan.
Namun harus diakui, keteladanan semacam ini semakin langka. Dunia akademik sebagaimana ruang sosial lainnya tak luput dari kecenderungan pragmatis dan individualistik. Pendidikan berisiko direduksi menjadi sekadar tangga mobilitas sosial: siapa yang kuat bertahan, dia yang naik; siapa yang tertinggal, dianggap gagal. Padahal, pendidikan yang tercerabut dari etika dan kepedulian sosial akan kehilangan daya transformasinya. Jendela dunia yang seharusnya membuka cakrawala justru berubah menjadi cermin sempit kepentingan pribadi.
Di tengah kelangkaan tersebut, keteladanan menjadi semakin bermakna Almarhum Prof. Dr. As’ad Isma., M.Pd. bin Ishaq adalah contoh nyata akademisi yang memaknai pendidikan bukan sebagai alat akumulasi prestise, melainkan sebagai sarana pengabdian. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai bahwa keberhasilan intelektual menemukan maknanya ketika digunakan untuk memanusiakan manusia dan membina generasi. Sosok seperti inilah yang menunjukkan bahwa etika akademik bukan wacana abstrak, melainkan praktik hidup.
Lebih jauh, secara sosiologis, pendidikan merupakan instrumen struktural paling efektif untuk memutus rantai kebodohan, kemiskinan, dan ketimpangan sosial yang diwariskan lintas generasi. Pendidikan meningkatkan mobilitas sosial, memperluas kesadaran kritis, serta membangun kapasitas individu untuk keluar dari jebakan kemiskinan struktural. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang paling rasional bagi perubahan nasib keluarga, komunitas, bahkan bangsa. Sejarah pembangunan global menunjukkan bahwa negara-negara yang berhasil menekan kemiskinan ekstrem hampir selalu menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama.
Karena itu, ajakan untuk melek pendidikan bukan sekadar slogan moral, melainkan seruan strategis. Melek pendidikan berarti sadar bahwa proses belajar betapapun berat, mahal, dan melelahkan adalah jalan yang sah dan bermartabat untuk mengubah masa depan. Melek pendidikan juga berarti membangun ekosistem yang saling menopang, bukan saling meniadakan; membimbing, bukan membiarkan.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang siapa yang berhasil sampai di puncak, tetapi tentang siapa yang bersedia tetap menyalakan lampu bagi mereka yang masih berjalan dalam gelap. Sebab kemajuan sejati tidak diukur dari banyaknya gelar yang diraih, melainkan dari sejauh mana ilmu mampu menghadirkan keadilan, keberdayaan, dan kemanusiaan.
Oleh: Ramadhany Agus, S.Sy., M.H.



Komentar