KOPASJAMBI.COM – Program Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM) yang digagas Pemerintah Kota Jambi di bawah kepemimpinan Wali Kota Jambi belakangan menjadi perhatian publik. Berbagai tanggapan muncul di tengah masyarakat, mulai dari dukungan hingga kritik terhadap implementasi program yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi warga dalam pengelolaan sampah tersebut.
Menanggapi beragam opini yang berkembang, tokoh Muda Jambi, Rully Arizal, mengajak masyarakat untuk memahami secara menyeluruh tujuan dan substansi program sebelum memberikan penilaian.
Menurut Rully, keberhasilan pengelolaan Sampah tidak hanya ditentukan aspek teknis tetapi juga sangat tergantung pada tingkat partisipasi serta kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan. Karena itu, konsep kolaboratif yang dibangun Pemerintah Kota Jambi dinilai telah berada pada jalur yang tepat.
“Program OPBM tidak hanya berorientasi pada terciptanya lingkungan yang bersih dan nyaman, tetapi juga menjadi instrumen pendidikan sosial yang mampu menumbuhkan serta menggugah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Rully Arizal.
Ia menjelaskan, model Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM) merupakan pendekatan yang menempatkan warga sebagai pelaku dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dengan keterlibatan masyarakat secara langsung, program tersebut dinilai mampu menciptakan tata kelola lingkungan yang lebih efektif sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan sekitar.
Selain itu, Rully juga mengapresiasi Program Kampung Bahagia yang memberikan ruang lebih luas kepada masyarakat untuk menentukan prioritas pembangunan di lingkungannya masing-masing. Melalui program tersebut, setiap RT diberikan kesempatan bermusyawarah bersama warga untuk merancang kebutuhan pembangunan yang dianggap paling penting dengan dukungan anggaran yang bervariasi hingga mencapai Rp100 juta per RT.

Menurutnya, kebijakan tersebut mencerminkan semangat pembangunan partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek penerima manfaat.
“Program Kampung Bahagia menjadi bukti bahwa pemerintah memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk menentukan arah pembangunan di lingkungannya sendiri. Ini adalah bentuk demokrasi pembangunan yang sangat baik karena keputusan lahir dari kebutuhan nyata warga,” katanya.
Dalam perspektif pembangunan modern, pendekatan ini sejalan dengan prinsip community-based waste management dan community-based development, yaitu model pembangunan yang menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahapan perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan program.
Rully meyakini bahwa sinergi antara Pemerintah, Para Tokoh, RT, dan masyarakat akan menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Kota Jambi Bahagia ( Bersih, Aman, Harmonis, Agamis, Inovatif, dan Sejahtera) Dengan kolaborasi yang terus diperkuat, berbagai program pembangunan diyakini akan berjalan lebih efektif serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Ketika pemerintah dan masyarakat memiliki semangat yang sama untuk membangun daerahnya, maka hasil pembangunan tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga tercermin dari meningkatnya kualitas hidup dan kebahagiaan masyarakat,” pungkasnya










Komentar